Ada Peluang dibalik Berakhirnya Kerjasama antara Pasar Jaya dan UP Perparkiran
01-09-2018 11:44:35, Sumber: Humas PDPJ

Pasar Jaya mengambil alih pengelolaan lahan parkir di 35 Pasar yang selama ini dikelola UP Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Sejumlah langkah perbaikan pun disiapkan oleh Pasar Jaya untuk mengoptimalisasi pendapatan terhitung sejak 1 September 2018, hak pengelolaan parkir di 35 pasar tradisional dikelola langsung oleh Pasar Jaya.

 

Penyerahan tersebut sebagai amanat dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui Biro Perekonomian DKI Jakarta. Instruksi Gubernur tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan lanjutan antara UP Perparkiran dengan Pasar Jaya. Kedua belah pihak pun akhirnya bertemu di Kantor UP Perparkiran di bilangan Pulomas Jakarta Timur untuk melakukan serah terima sekaligus mengakhiri Perjanjian Kerjasama (PKS) antara keduanya yang telah berlangsung sekian tahun. 

 

Manager UPL Perparkiran Pasar Jaya, Mahadi Sitepu membenarkan berakhirnya PKS pengelolaan parkir di 35 pasar tersebut.

 

“Sejak tanggal 1 September 2018 pengelolaan parkir di 35 pasar yang sebelumnya dikelola oleh UP Perpakiran sudah diserahkan kembali kepada Pasar Jaya dan kami sudah membuat spanduk sosialisasi mengenai pengambilalihan tersebut ” ujarnya.

 

Menurutnya penyerahan pengelolaan parkir menjelang akhir tahun tersebut membawa konsekuensi kepada target penerimaan parkir yang sudah ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2018 sebesar Rp 65 miliar. Masalah berikutnya adalah teknis pengelolaan 35 lahan parkir di 35 pasar tersebut yang harus dikelola secara manual oleh Unit Perpakiran   Pasar Jaya.

 

“Sambil menyiapkan lelang untuk tahun 2019, direksi meminta saya untuk mengelola secara mandiri 35 lahan parkir yang telah diserahkan UP Perparkiran Dishub. Arahan direksi ini sekaligus momentum untuk melakukan audit internal mengenai penerimaan di 35 lahan parkir tersebut,” ungkap Mahadi.

 

Meskipun masih menyisahkan persoalan dalam hal teknis, Mahadi menyanggupi arahan dari direksi tersebut. Persoalan teknis tersebut menyangkut parkir yang kembali harus dilakukan secara manual karena alat parkir yang sudah diambil lagi oleh UP Perpakiran. Kemudian soal kordinator juru parkir yang sampai saat ini masih menjadi pegawai Dishub. Resiko terakhir adalah kewajiban untuk mengganti kehilangan sebagaimana tertuang dalam  Peraturan Perpakiran yang baru.

 

Sejatinya lanjut Mahadi untuk menyelamatkan penerimaan dalam RKAP masih ada solusi yang lebih baik yaitu memberikan hak pengelolaan 35 lahan parkir tersebut kepada perusahaan pemenang lelang di 5 area pasar yang selama ini menjadi mitra kerja Pasar Jaya.

 

“Gagasan ini sudah saya sampaikan kepada direksi dan perusahaan mitra Pasar Jaya di 5 wilayah dan mereka menyanggupinya. Jadi kita nggak pusing urusan pendapatan karena mereka mau membayar dimuka. Namun soal pilihan ini terpulang kepada keputusan direksi,” ujar Mahadi. 

 

Momentum Perbaikan

Diluar urusan pengambilalihan 35 lahan parkir tersebut, Unit Parkir Pasar Jaya sudah menyiapkan beberapa strategi untuk meningkatkan penerimaan. Strategi tersebut akan dimasukkan kedalam RKAP tahun 2019 yang saat ini sedang disiapkan.

 

Beberapa strategi tersebut antara lain, optimalisasi lahan parkir yang ada dengan membangun parkir susun di beberapa pasar. Selain untuk menambah penerimaan, parkir susun ini juga dibuat untuk mengatasi kendala keterbatasan lahan dan membantu penataan pedagang kaki lima yang berada di sekitar pasar. Adapun material parkir susunnya nanti dari baja dan knockdown jadi mudah dibongkar pasang.

 

Mahadi menambahkan saat ini sudah ada investor yang tertarik untuk pembuatan parkir susun tersebut. Namun untuk kepentingan pengembalian investasi mereka meminta kerjasamanya berlaku selama 5 tahun dengan pembagian pendapatan sebesar 50-50. Baru setelah itu bangunan parkir susunya sepenuhnya menjadi hak Pasar Jaya.

 

“Ini peluang yang bisa dijalankan pasalnya PKS sepanjang 5 tahun masih diperbolehkan oleh peraturan. Lebih dari 5 tahun baru harus diputuskan oleh Gubernur. Jadi ini gagasan yang perlu dipertimbangkan. Daripada kita keluar biaya sendiri. Tapi lagi-lagi semua keputusannya terpulang kepada direksi,” cetus Mahadi.

 

Selain itu perlu juga dipertimbangkan untuk mengoptimalkan sejumlah lahan-lahan milik  Pasar Jaya yang tidak terpakai (idle). Misalnya di Pasar Blora, Pasar Tanah Abang Bukit dan Pulo Gadung.

 

“Memang sedikit, tapi kan lama-lama bisa besar juga. Daripada dibiarkan menganggur, kan lebih baik digunakan untuk dijadikan lahan parkir untuk meningkatkan penerimaan,” jelasnya.

 

Terakhir untuk mengoptimalkan penerimaan dari perparkiran perlu dipertimbangkan untuk membentuk unit usaha tersendiri menyangkut parkir yang terintegrasi dengan jasa kemanan dan kebersihan.

 

Saat ini lanjut Mahadi, keterbatasan lahan membuat peningkatan pendapatan dari sektor perparkiran semakin sulit. Kecuali ada peningkatan soal retribusi. Karena itu perlu dipikirkan untuk membangun parkir bersusun, pemanfaatan lahan yang idle atau sekalian membuat unit usaha baru yang terintegrasi antara jasa perparkiran, kemanan dan kebersihan.

 

“Pasar Jaya punya SDM yang berpengalaman mengelola persoalan keamanan, kebersihan dan parkir di 153 pasar. Saya kira ini nilai tambah yang bisa dijual kepada pengelola pasar di Jabodetabek. Karena itu perlu dipikirkan untuk merambah kesana,” ujar Mahadi.  




Editor: Humas PD. Pasar Jaya



Print

  • PASAR HIAS RIAS CIKINI
    PASAR HIAS RIAS CIKINI
  • PASAR SENEN BLOK III DAN VI
    PASAR SENEN BLOK III DAN VI
  • PASAR INDUK KRAMAT JATI
    PASAR INDUK KRAMAT JATI
  • PASAR JATINEGARA
    PASAR JATINEGARA
  • PASAR TANAH ABANG (A-F)
    PASAR TANAH ABANG (A-F)
  • PASAR BLOK M (MELAWAI)
    PASAR BLOK M (MELAWAI)
  • PASAR RAWABENING
    PASAR RAWABENING

Jakgrosir, Solusi Tekan Inflasi Daerah
Harga Komoditas
  • + Ayam Broiler (Ras) : Rp.0
  • + Bandeng (sedang) : Rp.33211
  • + Bawang Merah : Rp.0
  • + Bawang Putih : Rp.0
  • + Beras IR 42 : Rp.0
  • + Beras IR. I (IR 64) : Rp.0
  • + Beras IR. II (IR 64) : Rp.0
  • + Beras IR. III (IR 64 : Rp.0
  • + Beras Muncul .I : Rp.0
  • + Beras SETRA - I : Rp.0
  • + Cabe merah (TW) : Rp.0
  • + Cabe merah keriting : Rp.0
  • + Cabe rawit Hijau : Rp.0
  • + Cabe rawit Merah : Rp.0
  • + Daging babi berlemak : Rp.73250
  • + Daging Kambing : Rp.110033
  • + Daging sapi Has (Pah : Rp.0
  • + Daging sapi Murni (S : Rp.0
  • + Garam Dapur : Rp.4049
  • + Gas Elpiji (3Kg) : Rp.20238
  • + Gula Pasir : Rp.13523
  • + Jeruk Medan : Rp.24094
  • + Kelapa kupas : Rp.8400
  • + Kentang (sedang) : Rp.15302
  • + Lele : Rp.24568
  • + M a s : Rp.30027
  • + Margarine Blueband C : Rp.6512
  • + Margarine Blueband C : Rp.10678
  • + Minyak Goreng (kunin : Rp.0
  • + Semangka : Rp.8162
  • + Susu Bubuk Bendera ( : Rp.40845
  • + Susu Bubuk Dancow (4 : Rp.42861
  • + Susu Kental Bendera : Rp.11993
  • + Susu Kental Enak (20 : Rp.9156
  • + Telur ayam Ras : Rp.0
  • + Tepung Terigu : Rp.7616
  • + Tomat buah : Rp.12942
 

PROGRAM CHARITY

Charity merupakan bagian dari CSR dan merupakan usaha peduli untuk membantu masyarakat berupa kegiatan sosial atau lingkungan yang pelaksanaannya tidak terprogram dan bersifat bantuan atau program amal

Selengkapnya